Monday, August 6, 2012

Resensi Film Batman Terbaru " The Dark Knight Rises"


Trilogi terakhir serial Batman garapan sutradara Christopher Nolan ini dengan judul   "The Dark Knight Rises" memang telah ditunggu- tunggu oleh para penggemarnya, walau diwarnai oleh insiden tragedi penembakan yang dilakukan James E Holmes di bioskop di Colorado, Amerika Serikat, yang telah menyebabkan jatuhnya korban jiwa 12 orang meninggal dunia.

Kali ini, skenario film  "The Dark Knight Rises" ditulis oleh Nolan bersaudara , yaitu Christopher Nolan serta Jonathan Nolan.

Film  "The Dark Knight Rises"  ini berdurasi sepanjang 2 jam 44 menit.

 Film dibuka dengan adegan dimana foto mendiang Harvey Dent , seorang jaksa hebat yang kemudian beubah menjadi jahat menjadi Two Face, dipajang dengan pencitraan yang hebat, dianggap pahlawan sehubungan apa yang ia lakukan di film sekuel sebelumnya,  serta sang batman yang dicap penduduk kota Gotham sebagai penjahat .

Kebenaran bahwa sang Batman lah yang merupakan pahlawan yang menyelamatkan penduduk Gotham dari Joker serta Harvey Dent yang jahat akibat berubah menjadi Two  Face, hanya diketahui oleh Komisaris Polisi Gordon ( Gary Oldman ) dan ditutup rapat-rapat.

Dikisahkan, Bruce Wayne menyendiri selama 8 tahun akibat peristiwa yang merenggut nyawa kekasihnya, Rachel. Bruce Wayne merasa kehilangan serta merasa tidak bergairah untuk menjalankan hidupnya. Padahal, Bruce tidak mengetahui, bahwa saat itu, Rahchel sebelum tewas, telah memilih bahwa Harvey Dent lah yang sangat ia cintai, bukan Bruce.

Harapan hidup dan gairahnya untuk menjalani peran sebagai Batman kembali muncul setelah Cat Woman muncul menyamar sebagai pelayan di pesta rumahnya dan menyusup masuk hendak mencuri kalung mutiara di brankas milik Bruce dan ketahuan oleh Bruce, namun Cat Woman berhasil melarikan diri.

Cerita kemudian berubah saat tokoh antagonis Bane ( Tom Hardy ), muncul menebarkan teror kepada penduduk Gotham, dengan melakukan pendudukan secara brutal di pasar saham kota Gotham, lalu memberikan shock terapi dengan meledakkan lapangan bola Rugby dan mengancam penduduk kota Gotham dengan ancaman akan meledakkan bom nuklir berdaya peledak sangat tinggi.

Dalam film  "The Dark Knight Rises" , ini diperkenalkan tokoh baru yaitu Cat Woman yang diperankan oleh Anne Hathaway , tokoh Miranda Tate yang diperankan secara anggun oleh Marion Cotillard serta tokoh seorang polisi muda yang masih emosional dan idealis bernama Blake ( Joseph Gordon-Levitt ).

Sangat disayangkan, menurut saya , Tom Hardy sangat gagal memerankan tokoh antagonis " Bane " , minimal mengimbangi kemampuan akting yang memukau dari Heath Ledger yang memerankan tokoh Joker secara sempurna.

Bayangkan, dengan senyuman saja, sang Joker mampu membuat penontonnya merasa Joker itu sangatlah jahat sekali. Disini, tokoh Bane hanya tampak seperti robot, tanpa memiliki ekspresi yang kuat bahwa ia merupakan tokoh jahatnya . Wajah Bane tambah terlihat datar dengan adanya helm besi penutup wajah dan hidung.

Untungnya , akting Christian Bale mampu menyelamatkan film  "The Dark Knight Rises" . Akting Christian Bale sangat total dimana ia mampu memiliki wajah yang samat tirus saat adegan sang Batman sedang patah hati selama 8 tahun, serta sangat mampu melakukan ekplorasi emosi yang mendalam dalam konflik antara Bruce Wayne dengan pelayan setianya, Alfred ( Michael Caine).

Di akhir cerita, seolah pihak Warner Bross seakan belum rela kehilangan selamanya film Batman ini, maka diceritakan perihal asal muasal munculnya tokoh pahlawan baru kota Gotham , bernama Robin , kelak yang akan meneruskan perjuangan Batman, sang pahlawan Gotham City.

Movie Trailer:

Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayanganya


Belajar kearifan dari setiap butir pengalaman

Seperti apakah bentuk neraka? Seorang samurai menanyakan itu pada seorang biksu. Sang biksu menggeleng dengan ketus. Sang samurai lalu mencabut pedang dengan penuh kemarahan. Dengan wajah memerah –karena dipenuhi kemarahan–, ia siap memenggal kepala sang biksu. Namun sang biksu segera menjawab, “Inilah yang disebut neraka. Ketika kamu diliputi kemarahan. Ketika kamu marah, kecewa, dan tersinggung.” Sang Samurai lalu tersadar. Ia tersentuh dengan penjelasan itu. Ia lalu meminta maaf dengan mata berlinang. Sang biksu lalu menjawab, “Kamu sedang mengalami surga. Jagalah perasaanmu hari demi hari. Itulah surga.”

Kisah di atas adalah penggalan kisah yang saya temukan dari buku karya Ajahn Brahm berjudul Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya 2. Buku ini adalah buku yang berisikan 108 kisah-kisah inspirasi yang membuka pintu hati, membuka pintu kesadaran tentang pentingnya kehidupan serta mensyukuri semua yang dialami. Sebagaimana buku pertama, buku ini sangat inspiratif dalam hal memetik hikmah dari semua pengalaman sehari-hari. Penulisnya adalah seorang biksu pembelajar yang mencatat semua pengalaman ke dalam kisah-kisah bijak, kemudian membaginya kepada orang lain melalui kalimat-kalimat sederhana.

Saya banyak membaca buku-buku bertemakan spiritualitas untuk manusia modern. Akan tetapi, saya mencatat buku ini sebagai salah satu buku spiritualitas terbaik dalam hal bisa menjelaskan hikmah-hikmah dari hal-hal sepele yang dialami sehari-hari. Anda tak perlu menjadi seorang siswa di sebuah sekolah agama demi menjadi seorang spiritualis. Anda cukup merenungi pengalaman yang dilalui, lalu belajar dari pengalaman itu setahap demi setahap, lalu mengabadikannya melalui hikmah yang dituturkan kepada banyak orang. Anda juga tak perlu banyak mempelajari kearifan dari masa silam untuk masa kini. Sebab dengan merefleksi ‘bahan mentah’ dari pengalaman dan kejadian di sekitar, kita bisa melahirkan pemikiran yang jernih dan bening sebagai cermin yang membuat kita berkaca dan tersadar tentang diri kita sendiri.

Usai membaca buku ini, saya disadarkan bahwa spiritualitas bukan terletak dari seberapa sering seseorang menjalankan suatu ritual. Spiritualitas adalah upaya untuk belajar terus-menerus dari setiap pengalaman demi menjadi seorang individu yang berkualitas. Batasan kualitas di sini adalah ketika kita hidup bersama masyarakat, diterima banyak orang, serta bisa memberikan jalan keluar yang sederhana dari pengalaman sehari-hari. Spiritualitas adalah keinginan kuat untuk menjadi orang baik yang bisa berbuat sesuatu di sekitar. Bisa menjadi cahaya lilin yang menerangi kegelapan. Bisa mengolah debu pengalaman menjadi butiran berlian yang tak ternilai.

Ajahn Brahm –penulis buku ini—adalah seorang biksu asal Inggris. Ia alumni Cambridge University yang kemudian memilih tinggal di hutan Thailand untuk belajar kearifan. Mungkin, sebagai biksu hutan, ia banyak belajar dari pengalaman warga desa,sehingga gaya bahasanya menjadi sederhana dan tidak berliku-liku. Pilihan gaya bahasa seperti ini membuat kalimat jadi fleksibel dan samat mudah dipahami. Anda tak perlu berkerut kening ketika membacanya. Cukup membaca sambil lalu, dan bersiaplah untuk tersentak ketika menemukan indahnya perenungan dari hal-hal sederhana yang kita alami. Saya mencatat ada beberapa hal penting yang bisa ditemukan dari buku ini.

Pertama, kisah yang dituturkan di buku ini kebanyakan adalah pengalaman sendiri. Bukan kutipan kisah-kisah masa silam atau rujukan dari kitab-kitab suci. Saya menyenangi kutipan kitab suci berbagai agama, namun seringkali kutipan itu menjadi ahistoris atau tidak sesuai ruang dan waktu.  Ketika mengutip kisah dari kitab suci, maka kisah-kisah itu menjadi ahistoris atau berjarak dari pengalaman kita sehari-hari. Dengan mengangkat pengalaman sehari-hari, maka kisahnya jadi sangat dekat dengan keseharian. Kalaupun ia mengangkat kisah sebagaimana kisah samurai di atas, maka itu ditempuh demi menyampaikan sesuatu. Inilah yang menjadi salah satu kelebihan buku ini.

Kedua, gaya bahasanya ringan dan renyah. Kita tak perlu berkerut kening untuk memahami apa yang hendak disampaikannya. Buku ini bisa dibaca sembari bersantai ria, namun tetap serius saat menemukan butiran-butiran makna. Kisahnya juga tidak menggurui sebab mengangkat hal sehari-hari yang kita temui. Penulisnya memosisikan diri sebagai orang biasa yang mengalami hal-hal sehari-hari sebagaimana orang lain. Namun, di tengah hal yang remeh-temeh itu, penulisnya sanggup menemukan hikmah-hikmah yang dipetik dari pengalaman sehari-hari.

Ketiga, meskipun di tulis seorang biksu, namun kisah yang disajikan di sini menyimpan makna yang sifatnya universal. Saya tidak tahu apakah ini memang intisari ajaran Buddha, namun saya lebih suka menyebutnya kearifan yang ditemukan dari ceceran pengalaman. Saya terkagum-kagum dengan caranya mendekati persoalan dengan cara yang sederhana, namun amat menyentuh. Saat membacanya, saya beberapa kali mengucapkan “Wow…. kenapa saya gak memikirkan seperti ini yaa”.

Hal yang luar biasa dari Ajahn Brahm adalah kemampuan untuk meredam segala kesedihan, nestapa, ataupun derita. Ia tidak hendak memusuhi kesedihan, sebab kesedihan adalah bagian dari pengalaman sehari-hari. Kesedihan dihadapi sebagaimana menghadapi kesenangan. Dengan cara memahami kesedihan, seseorang akan sanggup masuk ke jantung kesedihan itu sendiri demi memahami kesedihan tersebut, lalu berdamai, kemudian mentransformasinya menjadi kebahagiaan. Siapapun yang bisa berdamai dengan kesedihan tidak akan menjauhi kesedihan. Dengan cara mengubah mindset atau cara pandang, kesedihan tidak lagi menjadi kesedihan, namun akan menjelma sebagai kupu-kupu kebahagiaan.

Buku SEPATU DAHLAN


Diantara begitu banyak kasus dan komentar-komentar tidak sedap tentang gaya hidup pejabat bangsa ini, saya mendengar seorang sosok yang memiliki gaya hidup yang berbeda. Mungkin itu bisa dikata sebuah cangkang luar yang tidak lain hanya untuk menutupi sesuatu. Orang yang tidak pernah bekerja bersamanya mungkin akan berpikir seperti itu. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan sosok yang satu ini, namun saya ingin membagi pendapat seorang penyiar tentangnya:

    “Selama mengenal Pak Dahlan Iskan, saya menyaksikan kerendahan hati dan kesederhanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, bagi saya setiap gerak-geriknya selama menjadi menteri bukanlah hal baru, meski gaya kerja dan ucapan Pak Dahlan diluar kebiasaan pejabat pada umumnya. Awalnya saya pikir gayanya yang unik hanya sekedar style memimpin saja. Namun, setelah membaca buku ini, segalanya terkonfirmasi. Kesederhanaan, rendah hati dan kerja keras yang dibarengi keteguhan hati, bukanlah sekedar gebrakan. Tapi itu semua adalah bentuk ucapan syukur Pak Dahlan terhadap apa yang pernah dilaluinya dan sudah dicapai.” – Putra Nababan, Wakil Pemimpin Redaksi dan Penyiar Seputar Indonesia RCTI.

Novel ini terinspirasi dari kisah kehidupan Dahlan Iskan. Penulis melakukan riset dan menyuguhkan sebuah fiksi yang menggambarkan bagaimana Dahlan berjuang untuk masa depannya. Banyak hal yang mempengaruhinya untuk menjatuhkannya, namun sebanyak itu juga hal-hal positif yang membuatnya mampu memelihara semangatnya. Kekuatan keluarga, persahabatan dan kemauan yang keras membuat Dahlan bersemangat untuk meraih mimpinya, seperti kata Ayahnya “Kemiskinan yang dijalani dengan tepat akan mematangkan jiwa”.

Dahlan lahir di Kebon Dalem, Magetan, Jawa Timur. Ia lahir di sebuah desa dan keluarga yang sangat sederhana. Ia hidup bersama Ayah, Ibu dan Adiknya, Zain. Sementara kedua kakak perempuannya, Mbak Softwati dan Mbak Atun telah merantau ke Madiun untuk melanjutkan pendidikan. Dahlan menyelesaikan sekolah rakyat dan melanjutkan pendidikannya di Tsanawiyah Takeran, tempat dimana seluruh anggota keluarganya menempuh pendidikan. Awalnya ia berencana untuk melanjutkan ke SMP Negeri Magetan, namun karena permintaan Ayahnya, ia menerima untuk bersekolah di Tsanawiyah Takeran. Novel ini menceritakan kehidupan Dahlan sejak lulus sekolah rakyat sampai ia lulus SMA, sekitar akhir tahun 1950an sampai tahun 1965.

    “Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya” [hal 322]


Begitu kata Dahlan Iskan yang sejak kecil telah dididik keras oleh hidup.

“mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga berdenging..siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing…sungguh aku butuh tidur…sejenak pun bolehlah..supaya lapar ini terlupakan”
 [kutipan dari belakang cover]

Terkadang perutnya kosong seharian, namun hal itu masih bisa ditahannya dengan mengikatkan sarung erat-erat keperutnya, begitulah caranya menahan lapar. Namun yang mengiris hati adalah saat menyaksikan adiknya yang masih sangat kecil menggigil kelaparan.

Dahlan harus berjalan puluhan kilometer untuk bersekolah tanpa alas kaki. Sepulang sekolah, dengan perut yang masih kelaparan ia masih harus bekerja sebagai nguli nyeset, nguli nandur dan ngangon domba. Begitu banyak beban hidup yang harus ditanggung oleh anak seusia Dahlan. Namun meski mereka hidup susah, Bapaknya selalu mengajar Dahlan dan saudara-saudaranya untuk bekerja keras.

“pilih ngendi, sugih tanpa iman opo mlarat ananging iman? – pilih mana, kaya tanpa iman atau melarat namun beriman?” Dahlan tidak memilih, namun ia membuat jawabannya sendiri “sugih ananging iman – kaya dan beriman”. Untuk Dahlan “sugih” hanya berarti satu hal, yaitu memiliki sepatu dan sepeda.

Begitu banyak hal menarik dalam novel ini. Ada bagian-bagian lucu ketika Dahlan menghadapi gadis yang ditaksirnya dan tak tahu harus berbuat apa. Ada bagian-bagian menyenangkan ketika Dahlan, Arif, Kadir, Imran, Komariyah, dan Maryati menikmati kebersamaan mereka dengan cara “anak kampung yang menyenangkan”. Ada bagian-bagian dimana Dahlan harus menyaksikan kaki teman-temannya berselimutkan sepatu keren sementara dia nyeker kemana-mana. Ada bagian-bagian menebarkan ketika Dahlan dan tim voli Takeran akan bertanding melawan SMP Magetan. Dibagian final voli, semua pemain diwajibkan bersepatu, lalu apakah Dahlan yang adalah ketua tim serta tosser andalan harus keluar dari lapangan karena dia nyeker? Satu demi satu kisah kehidupan Dahlan dituturkan oleh penulis dengan sentuhan-sentuhan emosi yang membuat pembaca bisa meletup-letup.

Membaca buku ini, seperti duduk mendengarkan Dahlan Iskan bertutur langsung kepada pembaca karena penulis menggunakan sudut pandang orang pertama. Zaman sekarang Indonesia memiliki banyak sekali penulis, namun saya tidak banyak menemukan seorang penutur cerita yang baik. Membaca novel ini membuat saya tahu bahwa Khrisna Pabichara adalah salah satu penutur cerita yang baik. Cara penuturannya sederhana dan tidak membosankan. Novel ini tidak ditulis dengan alur biasa,  klimaks dan anti klimak, namun novel ini dalam setiap babnya membahas potongan-potongan dari hidup keseharian Dahlan, keluarganya, sekolahnya, teman-temannya, mimpi-mimpinya, ketakutan dan kesedihannya, harapan-harapannya, dan usaha kerja kerasnya. Anda akan menemukan semangat baru dari setiap kepingan cerita itu. Novel ini akan membuat pembaca mensyukuri pemberian Tuhan serta memacu mengobarkan semangat meraih masa depan yang gemilang. Ketika menutup buku ini saya punya satu harapan yaitu bisa berbincang-bincang langsung dengan Pak Dahlan Iskan. Seandainya saya mendapat kesempatan itu, saya punya beberapa pertanyaan yang ingin saya tanyakan langsung kepadanya.

Dahlan Iskan menghadiri peluncuran novel ini yang diadakan pada 27 mei 2012 di Bundaran Hotel Indonesia (saat car free day) bersama sekitar 1000 anak yang datang dari berbagai sekolah yang ada di Jakarta untuk mendapatkan motivasi dari tokoh utama novel Khrisna Pabichara ini. Pada acara tersebut Dahlan Iskan membagikan 1000 sepatu kepada anak-anak yang hadir pada saat itu untuk menunjang aktivitas mereka. Sementara ia telah merencanakan untuk membagikan 2600 sepatu lagi selanjutnya. Museum Rekor Indonesia mencatat gerakan ini sebagai sebuah rekor baru di Indonesia.

---------------------------------------
Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Terbit : Mei 2012
Tebal : 392hal
ISBN : 978-602-9498-24-0
---------------------------------------
Sumber : althesia.blogspot.com